Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaLampungPendidikanProvinsi Lampung

Disdikbud Lampung Turut Hidupkan Festival Krakatau 2026, Thomas Amrico Dorong Pelajar Jadi Garda Pelestari Budaya

10
×

Disdikbud Lampung Turut Hidupkan Festival Krakatau 2026, Thomas Amrico Dorong Pelajar Jadi Garda Pelestari Budaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG WAH — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung mengambil bagian dalam kemeriahan Lampung Tapis Karnaval 2026, salah satu agenda utama rangkaian Festival Krakatau XXXV Tahun 2026. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi urusan sektor pariwisata, tetapi juga menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan.

Di bawah koordinasi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amrico, S.STP., M.H., unsur pendidikan dilibatkan dalam perhelatan budaya yang berlangsung di Bandar Lampung, Minggu (30/8/2026).

Example 300x600

Pelajar SMA dan SMK bersama jajaran Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dari 15 kabupaten/kota turut ambil bagian dalam karnaval.

Keterlibatan pelajar menjadi salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan Lampung Tapis Karnaval. Mereka tidak sekadar hadir sebagai peserta parade, tetapi membawa simbol identitas dan kekayaan budaya Lampung ke ruang publik.Hal tersebut sejalan dengan tujuan besar Lampung Tapis Karnaval yang sejak awal dirancang untuk memperkenalkan wastra tradisional Lampung, khususnya tapis, sekaligus memperluas promosi budaya dan pariwisata daerah.

Thomas Amrico dan Pendidikan Berbasis Kebudayaan

Bagi Thomas Amrico, keterlibatan dunia pendidikan dalam kegiatan kebudayaan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengikuti agenda seremonial pemerintah.

Sekolah dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda secara langsung. Melalui keterlibatan dalam kegiatan seni, tradisi, dan kebudayaan, peserta didik memperoleh pengalaman untuk mengenal identitas daerah sekaligus memahami bahwa kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Pola seperti ini juga memperkuat posisi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai institusi yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi turut membangun karakter dan kecintaan peserta didik terhadap lingkungan sosial serta kebudayaan daerah.

Dalam berbagai agenda pendidikan sebelumnya, Thomas Amrico, S.STP., M.H., juga menekankan pentingnya pembentukan peserta didik melalui proses pendidikan yang objektif, transparan dan berorientasi pada pengembangan potensi akademik maupun nonakademik.

Konteks tersebut menjadi relevan ketika pelajar diberikan ruang untuk tampil dan berkreasi dalam panggung kebudayaan seperti Lampung Tapis Karnaval.

Ribuan Pelajar Menjadi Bagian dari Panggung BudayaLampung Tapis Karnaval 2026 melibatkan sekitar 6.000 peserta yang tergabung dalam 127 tim. Pesertanya berasal dari berbagai unsur, mulai dari pelajar, mahasiswa, pemerintah daerah, Forkopimda, BUMN dan BUMD, OPD, perusahaan swasta, komunitas, sanggar, paguyuban hingga marching band.

Pemerintah Provinsi Lampung juga mencatat keterlibatan sekolah negeri dan swasta dalam parade tersebut. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela dan Sekretaris Daerah Marindo Kurniawan turut melakukan flag off di Tugu Adipura sebagai tanda dimulainya karnaval.

Kehadiran pelajar dari berbagai satuan pendidikan menengah membuat agenda tersebut sekaligus menjadi semacam panggung pembelajaran kebudayaan di ruang terbuka.

Budaya Tidak Berhenti di Ruang KelasPartisipasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung dalam Festival Krakatau memperlihatkan adanya ruang yang semakin luas bagi pendidikan berbasis kebudayaan.

Budaya tidak cukup hanya dikenalkan melalui buku pelajaran atau kegiatan sekolah. Generasi muda membutuhkan pengalaman langsung untuk melihat, mengenal, dan kemudian ikut menjaga warisan budaya yang mereka miliki.

Dalam konteks itu, keterlibatan pelajar dalam Lampung Tapis Karnaval dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun hubungan antara pendidikan, kebudayaan dan pembentukan karakter generasi muda.

Apalagi, tapis bukan hanya produk kerajinan atau pakaian tradisional. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, simbol, keterampilan, kreativitas, serta identitas masyarakat Lampung yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Thomas Amrico dan Tantangan Menjaga Budaya di Era Modern

Di tengah perubahan zaman, tantangan pelestarian budaya bukan hanya bagaimana menjaga tradisi tetap ada, tetapi bagaimana membuat generasi muda merasa bahwa budaya tersebut relevan dengan kehidupan mereka.

Thomas Amrico, S.STP., M.H., bersama jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung memiliki ruang untuk terus memperluas pendekatan pendidikan yang memberi tempat bagi seni, budaya, kreativitas dan identitas lokal.

Lampung Tapis Karnaval memberikan gambaran bahwa ketika sekolah, pelajar, pemerintah daerah, seniman dan masyarakat berada dalam satu panggung, kebudayaan dapat hadir dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi membawa budaya Lampung ke masa depan.

Sebab, menjaga warisan budaya pada akhirnya bukan hanya soal mempertahankan apa yang sudah ada. Lebih dari itu, bagaimana generasi muda Lampung mengenalnya, mencintainya, mengembangkannya secara kreatif, dan kemudian meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Lampung Wah – Suara Anda Berita Kami

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *