BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG WAH — Kalau selama ini pendidikan sering dibayangkan sebagai ruang kelas, papan tulis, buku pelajaran dan deretan angka di rapor, Festival Krakatau 2026 memperlihatkan wajah pendidikan yang sedikit berbeda. Di tengah kemeriahan agenda budaya terbesar Lampung tersebut, dunia pendidikan ikut mengambil ruang, membawa siswa dan sekolah lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa membentuk generasi tidak cukup hanya dengan mengejar prestasi akademik.
Momentum itu salah satunya terlihat dari keterlibatan jajaran Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Wilayah II bersama kontingen Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA dan SMK Kabupaten Tanggamus dalam rangkaian Festival Krakatau XXXV Tahun 2026.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari warna pendidikan di wilayah kerja Cabdin II yang mencakup Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Pringsewu dan Kabupaten Pesawaran, tiga daerah dengan karakter serta potensi yang berbeda, tetapi berada dalam satu garis pembinaan pendidikan menengah Provinsi Lampung.
Di balik keterlibatan tersebut ada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Rodi Hayani Samsun, yang menjadi salah satu figur penting dalam memastikan dunia pendidikan di wilayahnya tidak berjalan sendiri-sendiri.
Festival Krakatau menjadi ruang yang menarik, sebab agenda ini mempertemukan pendidikan, kebudayaan dan masyarakat dalam satu panggung. Bagi sekolah, kegiatan seperti ini bukan sekadar datang, mengikuti acara, lalu pulang. Ada proses pembelajaran sosial yang ikut berjalan ketika siswa melihat langsung bagaimana budaya daerah ditampilkan, bagaimana sebuah kegiatan besar dikelola dan bagaimana mereka membawa identitas sekolah sekaligus daerahnya ke ruang publik.
Festival Krakatau XXXV 2026 sendiri berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 dengan semangat “Nengah Nyappur”, nilai yang lekat dengan budaya Lampung tentang keterbukaan, kebersamaan dan kemampuan berbaur di tengah masyarakat.
Puncaknya ditandai Lampung Tapis Karnaval yang melibatkan sekitar 6.000 peserta dari 127 tim. Besarnya skala kegiatan tersebut membuat keterlibatan dunia pendidikan menjadi lebih dari sekadar pelengkap. Sekolah menjadi bagian dari cerita besar bagaimana budaya Lampung dikenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi MKKS SMA Kabupaten Tanggamus yang diketuai Desi Mulyawan, M.Pd., momentum tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kepala sekolah memiliki tanggung jawab yang semakin luas dalam membangun ekosistem pendidikan. Sekolah tidak hanya dituntut menghasilkan siswa dengan kemampuan akademik yang baik, tetapi juga perlu memberi pengalaman yang membentuk kepercayaan diri, kreativitas, kemampuan bekerja sama dan kepedulian terhadap lingkungan sosial serta budaya daerah. Dalam konteks itu, kehadiran SMA Tanggamus dalam Festival Krakatau dapat menjadi ruang pembelajaran yang tidak ditemukan dalam soal-soal ujian.
Hal yang sama juga terlihat pada MKKS SMK Kabupaten Tanggamus di bawah koordinasi Jamnur Hardy, S.Pd., M.M. Dunia SMK memiliki tantangan yang sedikit berbeda karena pendidikan vokasi tidak hanya berbicara mengenai pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan kesiapan peserta didik menghadapi dunia kerja. Namun fondasinya tetap sama: siswa membutuhkan karakter, kreativitas, kemampuan berkomunikasi dan pengalaman nyata.
Festival budaya kemudian menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk belajar bahwa keterampilan tidak selalu dipakai di bengkel, laboratorium atau ruang praktik; keterampilan juga diperlukan ketika mereka bekerja dalam tim, tampil di depan publik dan membawa nama daerah.
Di sinilah posisi Rodi Hayani Samsun menjadi penting. Sebagai Kacabdin Wilayah II, koordinasi antara sekolah, MKKS, guru dan berbagai unsur pendidikan menjadi bagian dari pekerjaan yang tidak selalu terlihat dari luar. Tanggamus, Pringsewu dan Pesawaran memiliki kebutuhan pendidikan yang tidak sepenuhnya sama. Karena itu, pembinaan tidak cukup dilakukan dengan pola seragam.
Sekolah perlu diberi ruang untuk berkembang sesuai karakter daerahnya, sementara koordinasi antarsatuan pendidikan tetap harus dijaga agar kualitas pendidikan bergerak dalam arah yang sama.
Sepanjang 2026, perhatian terhadap penguatan pendidikan di wilayah tersebut juga terlihat melalui berbagai agenda peningkatan kompetensi dan kesiapan sekolah, termasuk penguatan pembelajaran serta persiapan Tes Kemampuan Akademik melalui koordinasi dengan kepala sekolah dan MGMP. Artinya, keterlibatan dalam Festival Krakatau bukan berdiri sebagai kegiatan yang terpisah dari dunia pendidikan, melainkan menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar bahwa sekolah sedang didorong untuk aktif, kreatif dan mampu berinteraksi dengan lingkungan di luar pagar sekolah.
Dan Tanggamus punya cerita sendiri. Kabupaten ini tidak hanya memiliki sekolah yang terus didorong meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga mempunyai potensi budaya, pariwisata, ekonomi lokal dan karakter masyarakat yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi peserta didik.
Karena itu, keterlibatan kepala sekolah melalui MKKS SMA dan SMK dalam Festival Krakatau memiliki arti strategis: membawa sekolah lebih dekat dengan identitas daerah sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa pendidikan sedang bergerak mengikuti zaman.
Anak-anak hari ini hidup di tengah dunia yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak cukup hanya disiapkan untuk bisa menjawab pertanyaan di atas kertas. Mereka juga harus mampu berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi dan memiliki rasa percaya diri ketika berada di tengah masyarakat. Di titik inilah kegiatan kebudayaan bisa menjadi bagian dari pendidikan karakter yang nyata, bukan sekadar teori yang berhenti di buku pelajaran.
Keterlibatan Cabdin Wilayah II, MKKS SMA dan MKKS SMK Tanggamus dalam Festival Krakatau 2026 akhirnya menyampaikan satu pesan yang cukup sederhana, tetapi penting: pendidikan tidak boleh kehilangan hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan tempat siswa itu tumbuh. Sebab sekolah yang hebat bukan hanya sekolah yang mampu mencetak siswa berprestasi, tetapi juga sekolah yang mampu membuat siswanya memahami lingkungan, menghargai budaya dan berani menunjukkan kemampuan di hadapan publik.
Festival Krakatau boleh selesai. Panggung boleh dibongkar, kostum kembali disimpan dan rombongan sekolah kembali ke aktivitas masing-masing. Tetapi pengalaman yang dibawa pulang para siswa tidak seharusnya ikut selesai bersama acara.
Sebab justru di sanalah pendidikan menemukan panggungnya yang lain.Dan dari wilayah kerja Cabdin Pendidikan Wilayah II—dari Tanggamus, Pringsewu hingga Pesawaran—panggung itu masih panjang. Rodi Hayani Samsun bersama para kepala sekolah melalui MKKS SMA dan SMK memiliki pekerjaan berikutnya: memastikan semangat berprestasi, berkarya dan mengenal budaya yang terlihat dalam Festival Krakatau benar-benar kembali hidup di sekolah.
Karena kalau pendidikan hanya sibuk mencetak anak yang pintar menjawab soal, kita mungkin mendapatkan generasi yang cerdas.
Tetapi kalau pendidikan juga mengajarkan mereka untuk berkarya, berbudaya, berkolaborasi dan berani tampil, Lampung sedang menyiapkan generasi yang bukan hanya pintar—tetapi siap menjadi bagian dari masa depan daerahnya.
Lampung Wah – Suara Anda Berita Kami




















