BANDAR LAMPING, LAMPUNG WAH – Gokil. Gue baca berita UIN Raden Intan Lampung bukannya sedih, tapi malah pengin apply jadi vendor komputer di sana. Anggarannya ugal-ugalan! Total pengadaan kampus mencapai Rp 22,9 miliar, dan Rp 9,82 miliar melayang cuma buat sewa komputer dan laptop.
Ini kampus atau studio visual effects Hollywood?
Yang paling juara itu logika matematikanya. Mereka sewa PC All-In-One Lenovo i5 dengan tarif Rp 2,9 juta per bulan. Kalau dikali 12 bulan, biaya sewanya tembus Rp 34,8 juta per unit! Padahal kalau beli baru gres di E-Katalog, harganya cuma Rp 11 juta sampai Rp 13 juta per unit.
Logika macam apa ini? Bayar sewa setahun sama dengan beli 3 unit PC baru! Ini komputer kalau malam bisa ngetik skripsi sendiri apa gimana? Kok harganya mirip cicilan rumah subsidi?
Anggaran sewa Rp 6,89 miliar dialokasikan ke satu penyedia tunggal asal Jakarta Selatan, PT LUNA JAYA LESTARI. Hasilnya? Kampus cuma dapet hak pakai sekitar 198 unit PC selama setahun. Pas kontrak selesai, komputernya dikembalikan, kampus dapet apa? Dapet kenangan.
Padahal kalau duit segitu dipakai beli PC baru, kampus bisa dapet 600 unit lebih dan sah jadi Barang Milik Negara (BMN) yang bisa dipakai mahasiswa bertahun-tahun.Tapi tunggu, komedinya belum selesai:
• Barang Impor 100%: Komputer yang disewa ternyata produk impor dari China dengan Nilai Produk Dalam Negeri (PDN) = Rp 0. Slogan cinta produk dalam negeri langsung menguap begitu aja.
• Taktik Split Contract: Belanja sejenis dipecah jadi tiga paket terpisah dalam tahun anggaran yang sama. Biar apa? Biar nggak mencolok dan lolos dari pengawasan ketat, pastinya.
• Sewa Mobil Rp 4,09 Miliar: Selain komputer, ada belanja sewa kendaraan dinas Rp 4,09 miliar. Ini pejabat kampus mobilitasnya tinggi banget, apa tiap hari dinasnya keliling Planet Bekasi?
• Proyek Skincare Gapura: Di tengah keanehan sewa komputer, mereka sempat-sempatnya bikin proyek estetika Rp 3,6 miliar buat moles gapura dan bikin taman. Mahasiswa butuh fasilitas lab yang memadai, kampusnya malah sibuk skincare-an gapura. Mana nama penyedianya unik banget: CV SAMA CINTA KONSTRUKSI. Memang benar-benar cinta sama uang anggaran!
Kalau BPK, Kejaksaan, atau KPK nggak tergerak buat meriksa kasus ini, murni agak laen. Ini bukan sekadar pemborosan biasa, tapi udah masuk kategori komedi absurd berkedok pengadaan barang dan jasa.
Pertanyaannya cuma satu:
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)-nya nggak bisa pakai kalkulator, atau kalkulatornya sengaja dirusak demi cashback di bawah meja?Menurut lu, ini pura-pura lupa cara berhitung atau emang kreativitas anggaran level dewa?Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.
Setiap tanggapan resmi akan kami publikasikan secara proporsional sesuai prinsip keberimbangan dan kode etik jurnalistik.
(Tim)




















