Dibangun dari Kebiasaan, Dikuatkan dengan Keteladanan: Agus Nardi dan Budaya 5S di SMAN 13 Bandar Lampung
- account_circle lampungwah99@gmail.com
- calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG WAH — Pendidikan karakter tidak selalu dimulai dari ruang kelas. Di SMAN 13 Bandar Lampung, nilai-nilai kesantunan justru dibangun sejak siswa melewati pintu gerbang sekolah melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Kamis pagi, 24 September 2026, suasana hangat terlihat di lingkungan SMAN 13 Bandar Lampung. Guru dan tenaga kependidikan menyambut kedatangan peserta didik melalui kegiatan Sapa Pagi Ceria dengan mengedepankan budaya 5S, yakni Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun.
Bagi Kepala SMAN 13 Bandar Lampung, Agus Nardi, S.Pd., M.Pd., pembiasaan semacam ini memiliki makna lebih dari sekadar rutinitas pagi. Interaksi sederhana antara guru dan siswa menjadi bagian dari proses membangun karakter sekaligus menciptakan suasana sekolah yang ramah, nyaman dan penuh rasa saling menghargai.
Budaya 5S diterapkan melalui hal-hal sederhana. Senyum dan sapaan diberikan untuk membangun suasana positif, salam menjadi bentuk penghormatan, sementara sikap sopan dan santun terus dibiasakan dalam interaksi antara peserta didik dengan guru maupun sesama warga sekolah.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh melalui keteladanan dan pembiasaan. Apa yang dilakukan guru di lingkungan sekolah menjadi contoh yang secara perlahan membentuk kebiasaan peserta didik dalam bersikap dan berinteraksi.
Di bawah kepemimpinan Agus Nardi, S.Pd., M.Pd., Sapa Pagi Ceria menjadi salah satu bagian dari upaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter peserta didik.
Sebab, sekolah bukan hanya tempat siswa memperoleh pengetahuan. Sekolah juga menjadi ruang untuk belajar menghargai orang lain, membangun komunikasi yang baik, menjaga tata krama dan memahami pentingnya sikap dalam kehidupan bermasyarakat.
Kebiasaan menyapa sejak pagi juga menciptakan ruang interaksi yang lebih dekat antara pendidik dan peserta didik. Guru tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi juga menjadi figur yang memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.
Nilai itulah yang coba dibangun melalui penerapan 5S di SMAN 13 Bandar Lampung. Sebuah kebiasaan sederhana yang apabila dilakukan secara konsisten dapat menjadi budaya dan pada akhirnya melekat sebagai bagian dari karakter peserta didik.
Suasana positif sejak pagi diharapkan menjadi modal bagi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan lebih nyaman dan penuh semangat. Lingkungan sekolah yang hangat juga menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang pendidikan yang aman dan harmonis.
Pesan yang dibangun melalui kegiatan Sapa Pagi Ceria pun sederhana: karakter besar sering kali tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Melalui budaya Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun, SMAN 13 Bandar Lampung terus menanamkan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar materi yang disampaikan, melainkan nilai yang perlu dicontohkan dan dipraktikkan setiap hari.
Dari pintu gerbang, kebiasaan itu dimulai. Dari keteladanan para pendidik, nilai itu diperkuat. Dan dari pembiasaan yang terus dijaga, karakter peserta didik diharapkan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan mereka, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
Lampung Wah – Suara Anda Berita Kami
- Penulis: lampungwah99@gmail.com

Saat ini belum ada komentar