Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Tujuh Ruang, Rp1,46 Miliar di SMAN 1 Meraksa Aji: Jangan Sampai Hasilnya Hanya Besar di Anggaran

Tujuh Ruang, Rp1,46 Miliar di SMAN 1 Meraksa Aji: Jangan Sampai Hasilnya Hanya Besar di Anggaran

  • account_circle lampungwah99@gmail.com
  • calendar_month Selasa, 3 Nov 2026
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TULANG BAWANG, LAMPUNG WAH — SMAN 1 Meraksa Aji, Kabupaten Tulang Bawang, mendapatkan alokasi bantuan revitalisasi senilai Rp1.464.992.000. Dengan jumlah peserta didik sebanyak 473 siswa, sekolah tersebut memperoleh anggaran untuk rehabilitasi ruang kelas, perbaikan perpustakaan, hingga pembangunan ruang kelas baru.

Bagi Kepala SMAN 1 Meraksa Aji, Dunawan, S.Pd., program ini bukan sekadar kesempatan memperbaiki fasilitas pendidikan. Ada tanggung jawab besar yang melekat pada penggunaan anggaran hampir Rp1,5 miliar tersebut.

Sebab, ketika pemerintah mengucurkan dana sebesar itu untuk dunia pendidikan, hasil akhirnya tentu tidak cukup hanya berupa bangunan yang berdiri atau ruangan yang terlihat lebih baru. Kualitas pekerjaan, kesesuaian volume, spesifikasi material, hingga manfaatnya bagi kegiatan belajar mengajar menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan.

Berdasarkan data program, terdapat tujuh ruang yang menjadi sasaran pekerjaan. Rinciannya meliputi rehabilitasi tiga ruang kelas atau ruang serbaguna, rehabilitasi satu ruang perpustakaan, serta pembangunan tiga ruang kelas baru (RKB), seluruhnya termasuk perabot pendukung.

Artinya, dalam satu program revitalisasi, sekolah ini mendapatkan tiga jenis pekerjaan konstruksi dengan karakteristik dan kebutuhan teknis yang berbeda.

Nilainya pun mencapai Rp1.464.992.000. Angka yang tentu membutuhkan pengelolaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban secara cermat.

TUJUH RUANG DAN RINCIAN ANGGARAN YANG PATUT DICERMATI

Jika melihat komposisi pekerjaan, pembangunan ruang kelas baru tentu memiliki kebutuhan pembiayaan berbeda dibandingkan rehabilitasi bangunan yang sudah ada.

Pembangunan tiga ruang kelas baru membutuhkan pekerjaan konstruksi dari awal. Sementara rehabilitasi tiga ruang kelas dan satu perpustakaan harus menyesuaikan kondisi serta tingkat kerusakan bangunan sebelumnya.

Di sinilah pentingnya keterbukaan rincian pekerjaan revitalisasi SMAN 1 Meraksa Aji.

Berapa porsi anggaran untuk pembangunan tiga ruang kelas baru? Berapa pula alokasi untuk rehabilitasi tiga ruang kelas dan satu perpustakaan? Seberapa besar komponen pengadaan perabot menyumbang keseluruhan nilai bantuan?

Pertanyaan tersebut layak menjadi perhatian karena setiap jenis pekerjaan memiliki kebutuhan teknis dan perhitungan pembiayaan tersendiri.

Publik memang tidak bisa begitu saja membandingkan biaya pembangunan gedung baru dengan rehabilitasi bangunan lama. Namun, justru karena perbedaan itulah rincian pekerjaan, volume, spesifikasi, dan realisasi anggaran perlu diketahui secara jelas.

Jangan sampai angka keseluruhan terlihat mengesankan, tetapi hasil pekerjaan nantinya tidak sebanding dengan kebutuhan fasilitas pendidikan yang harus dipenuhi.

PROGRES 63,49 PERSEN, DUNAWAN BELUM BOLEH BERPUAS DIRI

Berdasarkan data perkembangan pembangunan, progres revitalisasi SMAN 1 Meraksa Aji tercatat mencapai 63,49 persen.

Angka tersebut menunjukkan pekerjaan masih berlangsung. Masih terdapat tahapan yang harus diselesaikan sebelum seluruh bangunan benar-benar siap dimanfaatkan oleh warga sekolah.

Dalam kondisi ini, peran Dunawan, S.Pd. sebagai kepala sekolah menjadi penting, terutama dalam memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai perencanaan dan hasil akhirnya dapat dipertanggungjawabkan.

Perhatian tidak cukup hanya tertuju pada penyelesaian fisik bangunan. Kualitas konstruksi ruang kelas baru, hasil rehabilitasi bangunan lama, hingga kesesuaian perabot yang disediakan juga perlu menjadi perhatian.

Sebab, ada perbedaan antara bangunan yang sekadar selesai dikerjakan dengan bangunan yang benar-benar memenuhi standar kelayakan.

Dokumentasi foto kondisi sebelum dan perkembangan pekerjaan yang diunggah pada 30 Oktober 2026 menjadi bagian dari gambaran pelaksanaan program. Namun, perubahan visual bangunan tetap perlu dibaca bersama hasil pemeriksaan fisik, kesesuaian volume, dan spesifikasi pekerjaan.

Dengan kata lain, foto dapat memperlihatkan perubahan, tetapi kualitas konstruksi tetap harus dibuktikan melalui kondisi fisik di lapangan.

BUKAN SEKADAR MEMBANGUN RUANGAN, TETAPI MEMPERTARUHKAN KEPERCAYAAN

Program revitalisasi sekolah patut diapresiasi sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

Namun, apresiasi tidak berarti pelaksanaan pekerjaan harus luput dari pengawasan dan penilaian publik.

Dengan nilai bantuan Rp1,46 miliar, setiap komponen pekerjaan memiliki konsekuensi pertanggungjawaban. Terlebih, program ini mencakup pembangunan ruang kelas baru sekaligus rehabilitasi bangunan lama.

Dunawan, S.Pd. tentu memiliki tanggung jawab memastikan fasilitas yang dibangun dan diperbaiki benar-benar memberikan manfaat bagi peserta didik.

Jika tiga ruang kelas baru dibangun, kualitasnya harus sesuai spesifikasi. Jika tiga ruang kelas direhabilitasi, pekerjaan harus menjawab kebutuhan perbaikan bangunan. Begitu pula perpustakaan, yang semestinya kembali menjadi ruang pendukung kegiatan literasi siswa.

Sebab, anggaran pendidikan bukan sekadar angka dalam dokumen kegiatan. Di baliknya terdapat kebutuhan ratusan siswa yang menunggu fasilitas belajar yang layak.

Karena itu, penyelesaian pekerjaan harus berjalan beriringan dengan keterbukaan informasi dan pertanggungjawaban penggunaan anggaran.

Pada akhirnya, keberhasilan revitalisasi SMAN 1 Meraksa Aji tidak cukup diukur dari tujuh ruang yang selesai dikerjakan. Lebih dari itu, harus terlihat perubahan nyata terhadap kualitas lingkungan belajar di sekolah tersebut.

Dengan progres yang masih tercatat 63,49 persen, perhatian publik kini tertuju pada penyelesaian seluruh pekerjaan dan hasil akhirnya.

Sebab, ketika tujuh ruang mendapatkan alokasi pekerjaan dengan nilai hampir Rp1,5 miliar, pertanyaan publik bukan lagi sekadar kapan bangunan selesai.

Melainkan, apakah hasil pekerjaan benar-benar sepadan dengan anggaran yang telah dikucurkan?

Satu hal yang pasti, Rp1,46 miliar terlalu besar untuk sekadar menghasilkan bangunan yang terlihat bagus dalam foto. (TIM – RED)

  • Penulis: lampungwah99@gmail.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less