Breaking News
Trending Tags
Beranda » Berita » Misteri Rp5,5 Miliar BPKAD Lampung: 864 Honorer & 35.000 Pekerja Rentan Masuk Anggaran

Misteri Rp5,5 Miliar BPKAD Lampung: 864 Honorer & 35.000 Pekerja Rentan Masuk Anggaran

  • account_circle lampungwah99@gmail.com
  • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
  • visibility 1
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

BANDAR LAMPUNG, LAMPAUNG WAH — Di balik megahnya angka pengelolaan keuangan daerah, sebuah teka-teki anggaran yang memancing tanda tanya besar tersimpan rapat di dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Lampung Tahun 2026.Di saat publik sibuk menyoroti gelimang fasilitas aparatur, terselip pos Belanja Barang dan Jasa senilai Rp5.584.451.200,00. Dari jumlah tersebut, hampir seluruhnya—yakni Rp5.584.032.000,00—habis dikonsumsi khusus untuk pos Belanja Jasa / Iuran Jaminan Asuransi.

Yang membuatnya dramatis dan mengundang investigasi moral: mengapa instansi yang bertindak sebagai “dapur” kas daerah justru memikul beban jaminan bagi ratusan honorer hingga puluhan ribu pekerja luar?

Berdasarkan lembaran resmi DPA SKPD BPKAD Provinsi Lampung yang disahkan oleh Plt. Kepala BPKAD sekaligus Pengguna Anggaran Nurul Fajri, S.Sos., M.T., aliran dana miliaran rupiah ini terpecah ke dalam tiga klaster jaminan yang mencengangkan:

• Jaminan Kesehatan 864 Honorer (PTHL): Negara menggelontorkan dana sebesar Rp1.555.200.000,00 untuk membiayai BPJS Kesehatan bagi 864 orang Pegawai Tidak Tetap Harian (PTHL) selama 12 bulan penuh, dengan patokan Rp150.000 per orang setiap bulannya.

• Asuransi Kecelakaan & Kematian Honorer: Sebanyak Rp248.832.000,00 dialirkan untuk iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) BPJS Ketenagakerjaan bagi ke-864 honorer tersebut, dengan kisaran penghasilan tercatat antara Rp2,3 juta hingga Rp2,49 juta.

• Ledakan Anggaran 35.000 Pekerja Rentan: Inilah titik paling janggal dan masif. BPKAD Lampung mencatatkan alokasi sebesar Rp3.780.000.000,00 (Rp3,78 miliar) untuk membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan (JKK & JKM) bagi 35.000 orang pekerja rentan selama kurun waktu 6 bulan, dengan hitungan iuran Rp18.000 per orang/bulan.

Kehadiran data 35.000 pekerja rentan dan ratusan honorer yang menumpang di dalam DPA BPKAD ini memantik investigasi dan kritik tajam dari kacamata akuntabilitas publik. BPKAD secara struktural bukanlah dinas teknis ketenagakerjaan atau dinas sosial yang bersentuhan langsung dengan pendataan riil pekerja informal di lapangan.

Menempelnya angka fantastis Rp3,78 miliar untuk puluhan ribu jiwa di instansi pengelola keuangan memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah program perlindungan ini benar-benar didukung oleh basis data penerima yang akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan, ataukah pos jasa ini hanya sekadar “titipan” anggaran makro untuk menyerap pagu dana tertentu?

Publik Lampung kini menuntut transparansi penuh. Jangan sampai dana jaminan sosial yang menyangkut keselamatan rakyat kecil justru kabur dalam pusaran administrasi birokrasi tanpa pengawasan yang ketat.Bagaimana bentuk pengawasan yang seharusnya dilakukan agar anggaran miliaran rupiah untuk pekerja rentan dan honorer ini tidak menjadi celah bancakan terselubung di instansi pengelola keuangan?

Sebelum berita ini ditayangkan, Tim Redaksi Lampung Wah telah mencoba melakukan konfirmasi dan koordinasi dengan pihak BPKAD Provinsi Lampung terkait data dan sejumlah pertanyaan yang muncul dalam pemberitaan ini. Namun, hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan resmi yang diterima oleh Tim Redaksi Lampung Wah.

Lampung Wah tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak BPKAD Provinsi Lampung maupun pihak-pihak terkait lainnya sesuai dengan prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.

(TIM Redaksi Lampung Wah)

  • Penulis: lampungwah99@gmail.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Design Transcended: When Art Meets Technology in Gadgetry

    Design Transcended: When Art Meets Technology in Gadgetry

    • calendar_month Jumat, 2 Feb 2024
    • account_circle lampungwah99@gmail.com
    • visibility 279
    • 0Komentar

    Exploring the Tech-Savvy WondersThe delineation between digital and physical continues to blur, weaving a fabric of reality that resonates with the beats of progress. Within this exciting nexus, entrepreneurs and tech aficionados find a fertile ground to cultivate, explore, and thrive. As we navigate through the myriad of gadget-driven narratives, there are key trends and […]

  • HADIRI KRAKATAU RUN 2026, SEKRETARIS DPRD LAMPUNG DESCATAMA PAKSI MOEDA PERKUAT DUKUNGAN TERHADAP AGENDA PARIWISATA DAERAH

    HADIRI KRAKATAU RUN 2026, SEKRETARIS DPRD LAMPUNG DESCATAMA PAKSI MOEDA PERKUAT DUKUNGAN TERHADAP AGENDA PARIWISATA DAERAH

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle lampungwah99@gmail.com
    • visibility 2
    • 0Komentar

    BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG WAH — Sekretaris DPRD Provinsi Lampung Descatama Paksi Moeda, S.T., S.E., M.M., turut hadir dalam pelaksanaan Krakatau Run 2026 di Lapangan Saburai, Enggal, Bandar Lampung, Sabtu (29/8/2026). Kehadiran Descatama dalam agenda tersebut menjadi bagian dari dukungan Sekretariat DPRD Provinsi Lampung terhadap kegiatan daerah yang memadukan olahraga, pariwisata, ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat. […]

  • HUT ke-81 RI, Eko Didi Armadi: Memaknai Kemerdekaan dari Meja Pemerintahan hingga Kehidupan Masyarakat Tanggamus

    HUT ke-81 RI, Eko Didi Armadi: Memaknai Kemerdekaan dari Meja Pemerintahan hingga Kehidupan Masyarakat Tanggamus

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle lampungwah99@gmail.com
    • visibility 3
    • 0Komentar

    TANGGAMUS, LAMPUNG WAH — Kemerdekaan Indonesia memasuki usia ke-81 tahun. Delapan dekade lebih setelah Proklamasi, makna kemerdekaan tidak lagi sebatas terbebas dari penjajahan. Di daerah seperti Kabupaten Tanggamus, kemerdekaan diuji dari pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apakah pembangunan semakin merata, apakah masyarakat semakin sejahtera, apakah pelayanan pemerintah semakin mudah, dan apakah setiap […]

  • Kokurikuler Jadi Ruang Pembentukan Karakter, Perkuat Disiplin dan Tanggung Jawab Siswa SMKN 1 Talangpadang

    Kokurikuler Jadi Ruang Pembentukan Karakter, Perkuat Disiplin dan Tanggung Jawab Siswa SMKN 1 Talangpadang

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle lampungwah99@gmail.com
    • visibility 7
    • 0Komentar

    TALANGPADANG, LAMPUNG WAH — Pendidikan tidak hanya berbicara tentang nilai di atas kertas, tetapi juga tentang bagaimana siswa membangun karakter, menumbuhkan tanggung jawab, dan belajar bekerja sama dalam kehidupan sehari-hari. Semangat inilah yang tercermin dalam kegiatan kokurikuler bersama guru wali di SMKN 1 Talangpadang. Di bawah kepemimpinan Kepala SMKN 1 Talangpadang, Jamnur Hardy, S.Pd., M.M., […]

  • Sampah Jadi Karya, Karya Jadi Cuan: RECRAFT Antar Siswa SMAN 1 Tulangbawang Tengah Raih Juara 1 YBC

    Sampah Jadi Karya, Karya Jadi Cuan: RECRAFT Antar Siswa SMAN 1 Tulangbawang Tengah Raih Juara 1 YBC

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle lampungwah99@gmail.com
    • visibility 2
    • 0Komentar

    TULANG BAWANG BARAT, LAMPUNG WAH — Sampah gelas plastik bekas minuman yang selama ini kerap berakhir begitu saja di tempat pembuangan, ternyata bisa memiliki cerita berbeda ketika berada di tangan anak-anak muda kreatif. Bukan sekadar dikumpulkan untuk didaur ulang, gelas plastik bekas tersebut justru diubah menjadi produk kerajinan yang estetik, fungsional, sekaligus memiliki peluang nilai […]

  • Kedok Study Tour Terbongkar, Guru Ditumbalkan Demi Profit

    Kedok Study Tour Terbongkar, Guru Ditumbalkan Demi Profit

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
    • account_circle lampungwah99@gmail.com
    • visibility 5
    • 0Komentar

    MKKSLAMPUNG UTARA, LAMPUNG WAH — Dunia pendidikan di Lampung Utara kembali tercoreng oleh dugaan praktik komersialisasi bernilai fantastis. Kegiatan berniat mulia yang dikemas sebagai agenda peningkatan kapasitas guru, justru disinyalir menjadi kedok penggelembungan anggaran (mark-up) demi meraup keuntungan pribadi kelompok tertentu. Hasil penelusuran mendalam yang diperkuat oleh bukti percakapan digital menunjukkan bahwa agenda study tour […]

expand_less